Sadar Tidak Kompeten

Posted by: Forum Human Capital Indonesia | 03/10/2018 | Category: Knowledge | 3303 Views | Ratings: 2902

Isteri saya sering kesal kepada buku masak atau acara memasak di TV, katanya resep masakan yang dia ikuti kadang gagal (kalo bahasa saya; kadang = sering, karena memang ga selalu tapi kebanyakan iya, hahaha), bolu ngga ngembang lah, cookies-nya gosong lah, supnya sepa lah, kolaknya neg-lah. Padahal katanya sudah diikuti instruksinya langkah per langkah sesuai standar takaran, waktu, suhu, dsb. Syukurnya setelah 2 atau 3 kali mencoba, beberapa resep berhasil diwujudkan sesuai ekspektasi, itu pun isteri saya masih misuh-misuh; mestinya gulanya ga segitu, mestinya kuning telurnya tiga bukan dua, mestinya suhu ovennya 175 derajat, bukan 200 derajat, dan seterusnya mengkoreksi instruksi. Ya begitulah proses belajar memasak isteri saya, setidaknya dia sadar kalau dia tidak (belum) kompeten.

Saya kira tak ada resep yang salah, mungkin di kondisi tertentu atau dengan cara tertentu, resep tersebut memang memiliki cita rasa yang disesuaikan dengan si pembuat resep, yang belum tentu sesuai dengan selera yang meniru resepnya. Dan yang saya amati, mungkin perlu penyesuaian terhadap ‘gap’ cita rasa tadi, mungkin perlu eksperimen di luar resep untuk fine-tuning biar pas, mungkin perlu melibatkan ‘rasa’ seluruh indera, mungkin perlu niat untuk memasak agar jadi kebiasaan, mungkin perlu menumbuhkan makna memasak supaya menghayati proses belajar memasak.

Saya kira demikianlah sebagian cara dari banyak cara kita belajar, katakanlah resep masak sebagai instruction, dan mengalami memasak adalah experience. Mungkin kita sepakat dua-duanya sama pentingnya, instruction sebagai finite baseline, dan experience sebagai infinite timeline. Seperti halnya buku teknik sipil sebagai acuan para mahasiswa/dosen fakultas teknik sipil, mereka mungkin tak setuju seluruhnya dengan isi bukunya, namun setidaknya mereka perlu mengetahui baseline (dasar-dasar) keteknikan sipil, dan mungkin bonusnya bagi sang mahasiswa meraih gelar sarjana teknik sipil. Yang membedakan antara satu insinyur sipil dengan yang lainnya adalah experience yang adanya di infinite timeline (niat, makna, eksperimen, kalibrasi, kompromi, dsb).

Dalam konteks corporate setting, yang mana owner/manajemen memiliki ekspektasi terhadap hasil pengembangan (bahasa CorpU-nya adalah development goal) yang diterjemahkan menjadi sasaran pengembangan (development objective), kemudian menjadi dasar perangkat pengembangan (development modules), sampai tingkatan kegiatan pengembangan (development activities). Semuanya dirumuskan dalam panduan instruksi (instructional guide). Instructional guide biasanya diperuntukkan bagi instruktur/fasilitator/ trainer agar menyampaikan materi dengan terstruktur, tepat waktu, tepat sasaran, flownya pas, energinya tetap hidup, dan ujungnya efektif di dalam pengembangan formal (kelas/workshop/FGD/dll). Saya yakin semua profesional L&D di CorpU telah sangat fasih dengan proses penciptaan efektivitas penyerapan pengetahuan menggunakan perangkat instructional design ini.

Beberapa penyelenggara pelatihan (walaupun sangat jarang, mungkin jumlahnya 1 banding 1.000.000 ?), menganggap (sadar atau tidak sadar) instructional design sebagai experiential design, tidak sepenuhnya salah karena instructional design merupakan bagian dari experiential design, jika pengembangan yang sasarannya adalah peningkatan pengetahuan saja, boleh jadi pernyataan tersebut hampir benar ?. Namun bila sasaran pengembangannya juga termasuk keterampilan (skill) dan perilaku (behavior), pernyataan tersebut kurang tepat (anggapan _instructional design sebagai experiential design), lalu seperti apa experiential design yang dimaksud?

<<bersambung>>

Jabat erat,
Triaji Prio Pratomo
Dekan Akademi Kepemimpinan
dan Akademi Kapabilitas Masa Depan
BNI Corporate University

Apakah pendapat Anda tentang artikel ini?

Share:


KATEGORI


POST POPULER

Alex Deni : Talent Management Practices

by: Forum Human Capital Indonesia | 07 August 2017

Human Capital 4.0

by: Forum Human Capital Indonesia | 23 October 2018

Antara Digital dan Integritas (Bagian 2 dari 2)

by: Forum Human Capital Indonesia | 15 November 2018

Transforming The Invisibles

by: Forum Human Capital Indonesia | 08 September 2018

BUMN University: Kawah Candradimuka Pemimpin BUMN

by: Forum Human Capital Indonesia | 31 May 2018

Pengembangan Lembaga Sertifikasi Profesi bidang HCM

by: Forum Human Capital Indonesia | 24 October 2018

Systems Thinking (Cognitive Agility series)

by: Forum Human Capital Indonesia | 17 September 2018

Empowerment in Leadership

by: Forum Human Capital Indonesia | 16 August 2018

Produktif atau Efektif

by: Forum Human Capital Indonesia | 06 December 2018

POST TERBARU

THE 3rd INDONESIA HUMAN CAPITAL SUMMIT 2021

by: Forum Human Capital Indonesia | 18 November 2021

Belajar, Bertumbuh, dan Berkontribusi

by: Forum Human Capital Indonesia | 13 October 2020

Training Leader As A Coach

by: Forum Human Capital Indonesia | 19 May 2020

Learn How To Learn - State - 5 of 7

by: Danang Taufik Karunia | 14 November 2019

51 BUMN Gelar Perekrutan Bersama Khusus Putra/Putri Papua

by: Forum Human Capital Indonesia | 07 November 2019

Learn How To Learn - Forget - part 4 of 7

by: Forum Human Capital Indonesia | 06 November 2019

Learn How To Learn - Exercise (part 3 of 7)

by: Forum Human Capital Indonesia | 03 November 2019

Learn How To Learn - Believe (part 2 of 7)

by: Forum Human Capital Indonesia | 01 November 2019