Skor Kompetensi Bukan Dari Observasi Satu Hari

Posted by: Forum Human Capital Indonesia | 24/10/2018 | Category: Knowledge | 1937 Views | Ratings: 681

Beberapa waktu lalu seorang rekan bertanya, kenapa skor hasil asesmen kompetensi dia kali ini turun? Padahal dia melakukan pekerjaan yang sama selama dua tahun lalu, bahkan merasakan pengembangan dirinya selama dua tahun terakhir berdasarkan feedback atasan terhadap gap kompetensinya berjalan cukup efektif, sehingga seharusnya skornya naik dong.

Pertanyaan dia relevan sekali, karena merasa nasib karirnya dipertaruhkan oleh sebuah proses observasi yang hanya satu hari dan dirasa ‘kurang’ mewakili proses panjang pengembangan diri. Dan di sisi yang lain, pertanyaan beliau menimbulkan pertanyaan iseng, ‘apakah dia harus ikut bimbel asesmen sebelum masuk assessment center, supaya skor asesmennya ngga turun?’ Yaa, semacam cara-cara orangtua ‘ambisius’ supaya anaknya punya ‘ranking’ dan masuk kriteria anak ‘berprestasi’ dengan indikator ranking atau nilai ujian. Setidaknya nama baik orangtuanya (perusahaan) bisa terjaga di mata masyarakat atau tetangga pesaingnya.

Saya kira pertanyaan bagi diri saya yg lebih tepat adalah; ‘mungkinkah kompetensi seseorang bisa menurun, di luar faktor force majeure dan alamiah seperti misalnya ybs menjadi difabel (fisik dan psikis), sakit, dan menua secara natural?’

Dari banyak ‘pakar’ dan pemilik asesmen center yang saya tanya hampir semuanya mengatakan ‘Kemungkinan kompetensi untuk menurun KECIL SEKALI bilamana ybs melakukan pekerjaan yang sesuai dengan yang diujikan.’ Contohnya sopir yang memiliki kompetensi menyetir mobil, kemungkinan kompetensi menyetir mobil dia jadi menurun atau hilang hampir tidak ada dari waktu ke waktu, karena setiap hari kerjaan dia ya menyetir mobil, KECUALI pada saat menyetir dia lelah dan ngantuk karena kurang istirahat, atau matanya mulai rabun dan ototnya tidak serefleks dulu karena usia.

Tetapi ironisnya pola pikir pendek yang sering mendominasi kalau misalnya sopirnya nabrak biasanya adalah: ‘sopirnya kurang pelatihan’ bukan ‘sopirnya butuh istirahat’ atau ‘sopirnya sudah waktunya diganti karena tua’ atau ‘sopirnya sudah tidak betah lagi berprofesi menyetir’

Katakanlah misalnya keputusan rapat diakomodir; dikirimlah Pak Sopir yang masih muda, segar, sehat, dan bersemangat itu ke CorpU untuk dilatih dan diuji nyetir. Kenyataannya dari hasil ujian Pak Sopir fine-fine aja, dia tahu cara nyetir, dia bisa melakukan nyetir di mobil, dan masih berperilaku selayaknya sopir sesuai dengan norma dan aturan nyetir yang diharapkan.

Lalu masalahnya di mana dong? Pak Sopir kan masih kompeten, tapi kenapa bisa disebut ga kompeten? Asesor senior dari sebuah perusahaan asesmen colek saya; waktu asesmen, beliau sedang capek ngga? Sedang sakit ngga? Sedang stress ngga? Sedang ada masalah kantor dan keluarga ngga? Saya bilang ga tau, kalau iya dia capek, sakit, dan stress memangnya kenapa? ‘ya coba aja Pak, Bapak disopirin sama sopir yang lagi stress, sakit, dan ngantuk, sementara Bapak lagi buru-buru dan maksa sopirnya tancap gas. Saya jamin Bapak akan merasa lebih dekat dengan Tuhan’

Lalu saya tertawa dan tanya kembali: ‘supaya sopir ini bisa dapat label kompeten gimana?’ beliau jawab lagi; ‘ya Bapak amati saja dari 365 hari dia nyetir itu gimana? Berapa persen dia nyetirnya bener, dan berapa persen nyetirnya ga bener, dari yang nyetirnya ga bener Bapak analisa kenapa dia nyetirnya ga bener, apakah masalah kemampuan nyetir (pengetahuan, skill, perilaku), kemauan nyetir (motivasi masih mau jadi sopir ngga) atau prasyarat nyetir (sakit, ngantuk, difabel, tua)? Lalu Bapak ambil keputusan apakah kalo masalah ga punya skill nyetir ya Bapak sekolahin, kalo dia udah ga punya semangat jadi sopir ya jangan dijadiin sopir, kalo dia sakit, ngantuk ya jangan disuruh nyetir dulu, kalo difabel atau memang sudah terlalu tua ya mau ga mau perlu ganti sopir.’

‘Lha jadi saya harus observasi setahun gitu? lalu asesmen satu hari di Assessment Center itu apa gunanya?’ saya terus tanya. Dia bilang ‘Pak, validitas assessment center itu maksimal 60% Pak. Maksimal lho! Bukan rata-rata! Idealnya pengguna jasa sopirnya lah yang punya kuasa bilang ini sopir kompeten atau ngga, atau dalam bahasa perusahaan; atasan langsungnya lah yang seharusnya jadi asesor paling sahih bilang bawahan saya kompeten atau ngga.’

‘Kan boss-bossnya sibuk cari duit, mana ada waktu observasi bawahan satu-satu tiap hari?’ Dia tersenyum ‘Saya ga bilang tiap hari Pak, periodik tetapi konsisten, seminggu sekali, sebulan sekali, dua bulan sekali juga gpp selama disepakati. Setidaknya jangan ngandelin hasil dari observasi 1 hari aja (di Assessment Center) sementara selama dua tahun dia ga punya waktu mengembangkan bawahannya. Kalau ga punya waktu observasi berkala dan kasih feedback kepada bawahan saat diperlukan mendingan jangan jadi leader Pak, kasian nanti succession planning perusahaan ngandelin dokumen hasil uji kompetensi yang cuman diobservasi satu hari.’

Namanya juga LEADER Pak! kualitas kepemimpinan dia ditentukan bukan hanya dari pencapaian hasil, tetapi juga dari konsistensi perbaikan proses secara rutin, diantaranya adalah proses menciptakan penggantinya di masa depan. Dan di masa depan ‘sustainable business are not measured only by making more money, but measured by making better leaders that making more money differently’

Jabat erat,
Triaji Prio Pratomo
Dekan Akademi Kepemimpinan
dan Akademi Kapabilitas Masa Depan
BNI Corporate University

Apakah pendapat Anda tentang artikel ini?

Share:


KATEGORI


POST POPULER

Alex Deni : Talent Management Practices

by: Forum Human Capital Indonesia | 07 August 2017

Human Capital 4.0

by: Forum Human Capital Indonesia | 23 October 2018

Antara Digital dan Integritas (Bagian 2 dari 2)

by: Forum Human Capital Indonesia | 15 November 2018

Transforming The Invisibles

by: Forum Human Capital Indonesia | 08 September 2018

BUMN University: Kawah Candradimuka Pemimpin BUMN

by: Forum Human Capital Indonesia | 31 May 2018

Pengembangan Lembaga Sertifikasi Profesi bidang HCM

by: Forum Human Capital Indonesia | 24 October 2018

Systems Thinking (Cognitive Agility series)

by: Forum Human Capital Indonesia | 17 September 2018

Empowerment in Leadership

by: Forum Human Capital Indonesia | 16 August 2018

Produktif atau Efektif

by: Forum Human Capital Indonesia | 06 December 2018

POST TERBARU

THE 3rd INDONESIA HUMAN CAPITAL SUMMIT 2021

by: Forum Human Capital Indonesia | 18 November 2021

Belajar, Bertumbuh, dan Berkontribusi

by: Forum Human Capital Indonesia | 13 October 2020

Training Leader As A Coach

by: Forum Human Capital Indonesia | 19 May 2020

Learn How To Learn - State - 5 of 7

by: Danang Taufik Karunia | 14 November 2019

51 BUMN Gelar Perekrutan Bersama Khusus Putra/Putri Papua

by: Forum Human Capital Indonesia | 07 November 2019

Learn How To Learn - Forget - part 4 of 7

by: Forum Human Capital Indonesia | 06 November 2019

Learn How To Learn - Exercise (part 3 of 7)

by: Forum Human Capital Indonesia | 03 November 2019

Learn How To Learn - Believe (part 2 of 7)

by: Forum Human Capital Indonesia | 01 November 2019