HC dan CorpU Di Persimpangan Jalan

Posted by: Forum Human Capital Indonesia | 30/10/2018 | Category: Knowledge | 2276 Views | Ratings: 1394

Dari sekian waktu menjalani karir sebagai profesional Human Capital dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, ada satu pola pikir yang menurut saya perlu diluruskan. Pola pikir ini biasanya muncul di ruang rapat membahas kinerja; saat kinerja turun, besar kemungkinan akan muncul ‘kesimpulan’ berdasarkan ‘analisa akar masalah’ bahwa biang kerok penurunan kinerja adalah ‘kompetensi’ pegawai. Sehingga solusinya populernya adalah tambah pelatihan, dan yang paling bikin ketawa adalah pernyataan generalisasi ‘para pemimpin di lapangan kurang militan! tidak bermental petarung!‘, itu sama saja dengan menunjuk hidung sendiri. Tetapi anehnya saat kinerja kinclong, hampir tidak terdengar suara yang mengatakan kinerja kinclong itu disebabkan oleh efektifnya pelatihan atau hebatnya para pemimpin di lapangan.

Seakan-akan fungsi human capital dan learning adalah objek penderita, sasaran tembak, bahkan kambing hitam dari kesimpulan ‘akar masalah’ yang bisa jadi bukan itu ‘akar masalah’-nya. Besar kemungkinan kita semua sudah terjebak dalam lingkaran pengambilan keputusan dari masa lalu; cara lama dipakai untuk menyelesaikan masalah masa kini, bahkan mungkin cara lama itu dianggap bisa menjawab tantangan masa depan.

Oke, saya mungkin terdengar seperti pendukung berat HC dan CorpU, ngga juga sih. Prinsipnya mirip dengan orang yang dibully, orang dibully karena membiarkan dirinya dibully. Persis dengan HC dan CorpU ketika berada di ruang rapat menerima pertanyaan dadakan yang sebetulnya normal-normal saja semisal: ‘seberapa besar korelasi matematis antara efektivitas pelatihan kepatuhan dengan jumlah pelanggaran prosedur kerja?‘ atau ‘berapa banyak pegawai wanita berkacamata yang punya anak lebih dari dua?’ biasanya sulit mendapatkan jawaban segera, atau jika dipaksa dan ditekan jawabannya bisa dalam bahasa kira-kira, tidak ilmiah, kurang analitis, lalu berupaya mempersiapkan jawaban ‘komprehensif’-nya untuk meeting minggu depan yang topiknya sudah beda.

Dari pengamatan saya; secara umum (tidak semua) HC dan CorpU saat ini lemah di analitik, lemah karena data-nya berantakan, antara data tidak akurat alias sampah hingga tak ada data. Pun walau misalnya datanya benar, data yang diolah belum menjawab sudut pandang efektivitas terhadap bisnis dan dampak jangka panjang, tetapi terlalu banyak bersudut pandang jangka pendek tentang produktivitas (dari satu sisi, yaitu perusahaan) atau efisiensi (juga dari sudut pandang perusahaan). Sehingga pengambilan keputusan sering didasarkan dari sudut pandang yang pendek dan tidak lengkap ini. Dan bisa ditebak pengambilan keputusan seperti ini selain tak akan membawa perusahaan ke mana-mana, juga berbahaya, karena ia seperti menciptakan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Kalau saja orang HC dan CorpU punya data yang akurat, solid, dan update secara konsisten dari waktu-ke-waktu, diolah dari berbagai sudut pandang mulai dari yang pragmatis hingga yang berdampak strategis, dari sudut pandang risiko, bisnis, kemanusiaan, dsb; saya kok yakin banget HC dan CorpU bisa jadi mitra sejajar dan dihargai karena semuanya transparan terang benderang, bukan karena pendapat sebagian orang yang suaranya paling lantang, bukan atas dasar kira-kira atau katanya-katanya. Semua berdasarkan data.

Bisa jadi data sebenarnya mungkin berkata; turunnya kinerja bukan bukan karena pegawai kurang kompeten atau kurang militan, tetapi karena pegawainya kurang cukup asupan (gizi dan rohani), kurang istirahat dan kurang liburan, sehingga mereka jadi rapuh luar dalam, spiritual keropos badan sakit-sakitan… Jauh panggang dari api, niatan bikin pegawai happy, healthy, wealthy, keputusan kejar setoran, pelatihan malam, hingga kerja keras dan belajar akhir pekan malah bikin perusahaan jadi berisiko tinggi, karena diisi pegawai yang capek pikiran dan hati, dan perusahaan berpotensi besar kolaps dan mati demi mengejar target setahun sekali.

Jadi ingat kembali kata-kata Sir Richard Branson, ‘clients do not come first, employees come first, if you take care your employees, they will take care of the clients’

Jabat erat,
Triaji Prio Pratomo
Dekan Akademi Kepemimpinan
dan Akademi Kapabilitas Masa Depan
BNI Corporate University

Apakah pendapat Anda tentang artikel ini?

Share:


KATEGORI


POST POPULER

Alex Deni : Talent Management Practices

by: Forum Human Capital Indonesia | 07 August 2017

Human Capital 4.0

by: Forum Human Capital Indonesia | 23 October 2018

Antara Digital dan Integritas (Bagian 2 dari 2)

by: Forum Human Capital Indonesia | 15 November 2018

Transforming The Invisibles

by: Forum Human Capital Indonesia | 08 September 2018

BUMN University: Kawah Candradimuka Pemimpin BUMN

by: Forum Human Capital Indonesia | 31 May 2018

Pengembangan Lembaga Sertifikasi Profesi bidang HCM

by: Forum Human Capital Indonesia | 24 October 2018

Systems Thinking (Cognitive Agility series)

by: Forum Human Capital Indonesia | 17 September 2018

Empowerment in Leadership

by: Forum Human Capital Indonesia | 16 August 2018

Produktif atau Efektif

by: Forum Human Capital Indonesia | 06 December 2018

POST TERBARU

THE 3rd INDONESIA HUMAN CAPITAL SUMMIT 2021

by: Forum Human Capital Indonesia | 18 November 2021

Belajar, Bertumbuh, dan Berkontribusi

by: Forum Human Capital Indonesia | 13 October 2020

Training Leader As A Coach

by: Forum Human Capital Indonesia | 19 May 2020

Learn How To Learn - State - 5 of 7

by: Danang Taufik Karunia | 14 November 2019

51 BUMN Gelar Perekrutan Bersama Khusus Putra/Putri Papua

by: Forum Human Capital Indonesia | 07 November 2019

Learn How To Learn - Forget - part 4 of 7

by: Forum Human Capital Indonesia | 06 November 2019

Learn How To Learn - Exercise (part 3 of 7)

by: Forum Human Capital Indonesia | 03 November 2019

Learn How To Learn - Believe (part 2 of 7)

by: Forum Human Capital Indonesia | 01 November 2019