Berani Profesional, Hebat!

Posted by: Forum Human Capital Indonesia | 14/01/2019 | Category: News | 2903 Views | Ratings: 1663

Minggu lalu saya berkesempatan beraudiensi menelaah sepuluh modul Integritas Bisnis dari KPK, saya berkesimpulan seluruh modul tersebut berujung pada satu kata: profesional, tidak heran KPK saat ini mensosialisasikan tagline baru “Berani Profesional, Hebat!” setelah sebelumnya tagline “Berani Jujur, Hebat!” sempat populer. Mengapa KPK kini mengedepankan kata profesional? Karena menurut KPK; menjadi profesional adalah akar berintegritas. Sehingga muncullah motto yang juga dipopulerkan KPK untuk kalangan pelaku bisnis yaitu PROFIT (Profesional Berintegritas)

Saya mencoba mencerna tagline KPK tersebut melalui pertanyaan; apa hubungan menjadi profesional dengan integritas? Sampai akhirnya pagi ini saya mendapatkan berita seorang kawan memutuskan mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Pengunduran diri adalah hal yang biasa di dunia profesional, apalagi bagi mereka yang pernah mengecap karir di perusahaan multinasional yang dikenal keras bahkan tanpa kompromi terhadap pegawai yang kinerjanya di bawah ekspektasi, apalagi terhadap yang perilakunya tidak sesuai dengan budaya perusahaan.

Mereka-mereka yang dibentuk oleh budaya keras itu terbiasa dengan corsa profesional yang juga militan; ‘siap diberhentikan kapan pun bila perusahaan tak lagi membutuhkan apa pun alasannya, dan siap berhenti jika kontribusi diri tak sesuai janji atau ekspektasi’. Karena bagi para profesional ini, bila diri ini makan gaji lebih tinggi dari kontribusi ada beban etika yang berat di pundaknya, malu jika disebut tidak punya integritas.

Kawan saya ini berkarir di perusahaan yang berbeda dengan tempat saya bekerja, melalui pesan singkat karena belum sempat bertemu, dia mengkonfirmasi bahwa pengunduran dirinya berawal dari target perusahaan yang dibebankan pada dirinya secara perhitungan profesionalnya ‘tidak akan tercapai’. Saya tidak kemudian menghakiminya sebagai seorang yang cengeng atau pesimis, karena saya tahu dia seorang yang realistis, pekerja keras, profesional sejati yang akan mencapai apa pun yang sudah menjadi komitmennya. Dia bukan pekerja yang bekerja membabi-buta, dan bukan seorang yang mengatakan “Siaaap!” padahal sebaliknya.

Lalu saya bertanya, apa yang mendasari keputusannya mengundurkan diri? Dia mengatakan dengan sederhana “hati nurani”, “rasanya saya membohongi diri dengan mengatakan bisa mencapainya tetapi saya tidak memiliki kompetensi yang cukup, sumberdaya yang cukup, dan kewenangan yang cukup untuk mengeksekusinya. Saya tidak menyerah, saya hanya mengatakan mungkin ada yang lebih mampu mencapainya dibanding saya, mungkin kemampuan saya sudah tidak relevan dengan tuntutan perusahaan, dan di titik itu saya perlu berkaca untuk memiliki keberanian dan kebesaran hati memberikan kesempatan kepada mereka yang lebih relevan”

Selepas percakapan online itu, saya merenung agak panjang; dan saya sedikit banyak mulai memahami mengapa KPK mengatakan Berani Profesional, Hebat! karena tanpa memiliki kesadaran akan keterbatasan kemampuan kita, kita pada dasarnya sudah menjadi tidak profesional, dan mereka yang buta (atau membutakan diri) akan kapasitas dirinya memiliki potensi besar menghalalkan segala cara, termasuk menggadaikan integritasnya untuk mencapai tujuan yang bisa jadi dihasilkan melalui cara-cara yang tidak beretika.

Dalam konteks yang positif, menjadi Profesional diejawantahkan dalam perilaku senantiasa meningkatkan kompetensi dan memberikan hasil yang terbaik. Menjadi Berintegritas diwujudkan dalam perilaku jujur, tulus, ikhlas, disiplin, konsisten, dan bertanggung jawab. Saya rasa nilai-nilai utama dan contoh-contoh perilaku ini sudah ada di setiap pernyataan budaya kerja masing-masing perusahaan. Pertanyaannya; seberapa banyak yang telah sepenuh hati menghidupinya sehingga ia terbiasa dengan prinsip ‘siap diberhentikan kapan pun bila perusahaan tak lagi membutuhkan, dan siap berhenti jika kontribusi diri tak sesuai janji atau ekspektasi’.

Jabat erat,
Triaji Prio Pratomo
Dekan Akademi Kepemimpinan
dan Akademi Kapabilitas Masa Depan
BNI Corporate University

Apakah pendapat Anda tentang artikel ini?

Share:


KATEGORI


POST POPULER

Alex Deni : Talent Management Practices

by: Forum Human Capital Indonesia | 07 August 2017

Human Capital 4.0

by: Forum Human Capital Indonesia | 23 October 2018

Antara Digital dan Integritas (Bagian 2 dari 2)

by: Forum Human Capital Indonesia | 15 November 2018

Transforming The Invisibles

by: Forum Human Capital Indonesia | 08 September 2018

BUMN University: Kawah Candradimuka Pemimpin BUMN

by: Forum Human Capital Indonesia | 31 May 2018

Pengembangan Lembaga Sertifikasi Profesi bidang HCM

by: Forum Human Capital Indonesia | 24 October 2018

Systems Thinking (Cognitive Agility series)

by: Forum Human Capital Indonesia | 17 September 2018

Empowerment in Leadership

by: Forum Human Capital Indonesia | 16 August 2018

Produktif atau Efektif

by: Forum Human Capital Indonesia | 06 December 2018

POST TERBARU

THE 3rd INDONESIA HUMAN CAPITAL SUMMIT 2021

by: Forum Human Capital Indonesia | 18 November 2021

Belajar, Bertumbuh, dan Berkontribusi

by: Forum Human Capital Indonesia | 13 October 2020

Training Leader As A Coach

by: Forum Human Capital Indonesia | 19 May 2020

Learn How To Learn - State - 5 of 7

by: Danang Taufik Karunia | 14 November 2019

51 BUMN Gelar Perekrutan Bersama Khusus Putra/Putri Papua

by: Forum Human Capital Indonesia | 07 November 2019

Learn How To Learn - Forget - part 4 of 7

by: Forum Human Capital Indonesia | 06 November 2019

Learn How To Learn - Exercise (part 3 of 7)

by: Forum Human Capital Indonesia | 03 November 2019

Learn How To Learn - Believe (part 2 of 7)

by: Forum Human Capital Indonesia | 01 November 2019